Festival Ekonomi Kreatif

Situs blog resmi Festival Ekonomi Kreatif Tk SMA dan Sederajat se-Indonesia (FEKSI)

Ekonomi kreatif akankah dahsyat?

1 Komentar

Oleh: Dian Theresia Purba (SMAN 2 Pekanbaru)

Dian Theresia Purba.

Tidak mudah bagi Indonesia sebagai negara berkembang untuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan perekonomian dunia yang terus-menerus bergerak maju beriringan dengan pesatnya daya dukung kemajuan teknologi informasi. Seperti yang terjadi saat ini, yaitu peralihan peradaban ekonomi dari zaman pertanian, industri, dan informasi ke zaman konseptual. Dimana  perpaduan antara kreatifitas, seni, budaya, pengetahuan dan teknologi informasi dituntut untuk menjadi satu bagian utuh yang memiliki daya jual tinggi, mampu meningkatkan kesejahteraan, serta sesuai dengan tuntutan perkembangan dunia abad ke-21. Semakin kompleksnya kebutuhan masyarakat dan semakin cerdasnya para konsumen juga secara otomatis menjadikan para pelaku dunia usaha di Indonesia kalang kabut memutar otak untuk dapat menciptakan suatu karya yang benar-benar berkualitas, unik, dan bercirikan budaya nusantara.

Era ekonomi kreatif yang jelas-jelas menguntungkan dan mampu memberi banyak kontribusi dalam berbagai sektor kehidupan di tengah mulai menipisnya kuantitas dan kualitas sumber daya alam pun kurang disosialisasikan pemerintah kepada masyarakat. Hal ini menjadi penyebab utama tidak semua masyarakat memahami, bahkan tidak turut mengambil andil dalam sistem ini. Maka tak heran jika pertanyaan tentang kontribusi ekonomi kreatif dalam perekonomian dilontarkan pada masyarakat Indonesia, sebagian besar dari mereka akan melihatnya sebagai suatu hal asing. Malahan mereka akan balik bertanya tentang definisi dan peranan ekonomi kreatif tersebut.

Padahal negara-negara lain di dunia sudah memasukkan ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pendapatan negaranya. Seperti yang terjadi di Inggris, yaitu pelopor pengembangan ekonomi kreatif, industri itu tumbuh rata-rata 9% per tahun, dan jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara itu yang 2% – 3%. Sumbangannya terhadap pendapatan nasional mencapai 8,2% atau US$ 12,6 miliar dan merupakan sumber kedua terbesar setelah sektor finansial. Ini melampaui pendapatan dari industri manufaktur serta migas.

Hal yang sama juga terjadi di Australia, US, dan Singapore. Jika kita melihat pada tahun 2008 dalam perkembangan ekonomi kreatif dibeberapa negara maju, seperti Singapore mampu memberi kontribusi GDP IK berkisar sampai 2,8% dan tingkat partisipasi kerja berkisar 3,4%, Inggris mampu memberi kontribusi GDP IK sampai dengan 7,9% dan pertumbuhan PDB industri kreatif berkisar 16%, pertumbuhan PDB industri kreatif di Australia berkisar 5,7%, dan juga tingkat partisipasi kerja di US sampai 5,9%. Hal ini semakin membuktkan eksistensi ekonomi kreatif dalam sejarah perekonomian dunia. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Tak banyak yang mengetahui kalau beberapa tahun belakangan ini sebagian kecil pelaku usaha, terutama kalangan pemuda di Indonesia perlahan sudah mulai merintis pengembangan industri ekonomi kreatif atas inisiatif sendiri. Pemerintah pun mulai menyadari eksistensi dan potensi ekonomi kreatif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Sungguh ironis memang, bila kita memandang perbandingannya dengan negara-negara lain yang sudah banyak berhasil menerapkan ekonomi kreatif dalam sistem perekonomian negaranya sedangkan di Indonesia yang terkenal akan kekayaan beragam budaya, pemerintahnya baru akan memulai mencangakan totalitas pengaplikasian pengetahuan berbasis teknologi dan kebudayaan ini dalam sistem ekonomi di tahun 2025 mendatang.

Sebagaimana halnya dengan visi misi Departemen Perdagangan tentang ekonomi kreatif Indonesia 2025, pemerintah mencanangkan peningkatan ekspor berdasarkan kearifan dan warisan budaya lokal. Pemerintah pun tidak bisa menyangkal bilamana ekonomi kreatif memainkan peran yang cukup signifikan serta memberi kontribusi yang tidak sedikit, baik itu dalam bidang ekspor, PDB, maupun penciptaan lapangan kerja dan usaha. Iklim bisnis pun akan menunjukkan titik cerah dan pengangkatan citra dan identitas bangsa dalam turisme dan ikon nasional melalui industri ekonomi kreatif.

Pada tahun 2008 kontribusi industri kreatif Indonesia tidak banyak menyumbang bagi pendapatatan nasional, seperti kontribusi PDB sebesar 151 triliun rupiah (7,28% dari total PDB Indonesia), jumlah penyerapan tenaga kerja mencapai 7,7 juta pekerja dengan tingkat partisipasi 7,53%, nilai ekspor mencapai 114,9 triliun rupiah dan berkontribusi sebesar 7,52% terhadap total nilai ekspor nasional (pertumbuhan nilai nominal ekspor). Tiga subsektor yang memberikan kontribusi paling tinggi adalah fashion (43%), kerajinan (25%), periklanan (8%) dan desain (6%).

Sumbangsih nilai persentase ini belum berarti bila dibandingakan dengan asumsi di lapangan, jumlah impor masih lebih besar dari ekspor yang tidak seimbang akan menjadikan keadaan ekonomi Indonesia sulit berkembang. Apabila hal ini dihadapkan dengan rencana ekonomi kreatif Indonesia 2025 dalam hubunganya yang komprehensif dengan kesiapan Indonesia menghadapi ekonomi kreatif, tentu akan menjadi lebih bergairah.

Sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang besar untuk bisa berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, jika kita menganalisa dari segi keanekaragaman seni budaya dipadu dengan teknologi, yang merupakan salah satu modal dasar ekonomi kreatif. Akan tetapi, minimnya perhatian dan dukungan pemerintah terhadap kegiatan ekonomi kreatif serta minimnya sosialisasi kepada kaum muda yang merupakan motor penggerak ekonomi kreatif menjadikan ekonomi kreatif yang akan dituju hanya tinggal angan-angan. Program-program pemerintah pun jelas terlihat seperti tanpa harapan,

Rencana pemerintah saat ini yang yang belum menjadikan industri ekonomi kreatif sebagai sumber pendapatan negara yang penting, semakin membuat terpuruknya tekad dalam totalitas pengembangan ekonomi kreatif. Dalam kasus ini, pemerintah pun masih berorientasi pada sektor manufaktur, fiskal, dan agrobisnis. Meskipun sudah jelas kalau ekonomi kreatif tidak kalah pentingnya bila pemerintah bersama masyarakat serius dalam melakoninya. Akan tetapi pengaruh harga minyak global yang semakin tak menentu dan naiknya tarif dasar listrik cenderung mempengaruhi kinerja industri kreatif terutama pada meningkatnya harga bahan baku dan ongkos produksi.

Adapun kendala-kendala yang akan dihadapi dalam menuju ekonomi kreatif adalah terutama di bidang pembiayaan. Walaupun pemerintah sangat menyarankan para pemuda untuk ikut berkontribusi dan mengambil andil dalam ekonomi kreatif, tetapi pada kenyataan pelaksanaan pemberian bantuan pembiayaan yang disalurkan melalui bank-bank akan terhambat karena sulitnya birokrasi dan rumitnya persyaratan, terutama penyerahan agunan kredit. Hal ini dikarenakan bank cenderung selektif dan ingin mengamankan dana yang akan disalurkan. Selain itu, rendahnya kualitas sumber daya manusia mengakibatkan rendahnya mutu produk yang akan dihasilkan. Secara otomatis, hal ini diperparah lagi dengan tingginya tingat persaingan global. Para kaum muda juga belum menguasai sepenuhnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Disamping itu, kurangnya iklim kondusif yang masih ada di negara kita diperparah oleh kaum muda yang masih berorientasi menjadi pegawai.

Agar ekonomi kreatif ini tidak hanya menjadi wacana belaka, maka antara pemerintah dan masyarakat serta pihak-pihak yang terkait diharapkan berjalan sinergi. Pemerintah sebaiknya menyediakan sarana dan prasarana serta memberi stimulus yang tidak henti-hentinya. Sedangkan bagi pihak-pihak terkait seperti bank yang akan menyalurkan pendanaan tidak dihantui oleh rasa curiga dengan membuat persyaratan penyaluran dana yang sulit ditembus. Kaum muda selaku calon-calon pelaksana di dunia bisnis dituntut untuk selalu kreatif, inovatif, dan fleksibel.

Apabila hal ini berjalan dengan lancar, maka tidak perlu disanksikan lagi bahwa ekonomi kreatif akan memberikan sumbangsih yang sangat signifikan disamping akan menciptakan lapangan kerja yang sangat banyak dan akan menciptakan juga pengusaha-pengusaha muda yang sangat tangguh. Dan akhirnya ekonomi kreatif akan menaikkan pendapatan nasional yang dahsyat. Semoga.

DAFTAR PUSTAKA

Materi sosialisasi pengembangan ekonomi kreatif saat technical meeting.
http://kolumnis.com/2009/01/30/pentingnya-ekonomi-kreatif-bagi-indonesia/
https://feksi.wordpress.com

Penulis: asmonowikan

An Optimistic and romantic man...!

One thought on “Ekonomi kreatif akankah dahsyat?

  1. Ping-balik: Tlg partisipasi teman2 utk ngisiin angket ^^? | Indonesia Search Engine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s