Festival Ekonomi Kreatif

Situs blog resmi Festival Ekonomi Kreatif Tk SMA dan Sederajat se-Indonesia (FEKSI)

Sukses hanya butuh otak

1 Komentar

Oleh: Nur Khansa Ranawati (SMAN 2 Bandung)

Nur Khansa Ranawati.

Dalam era persaingan global, industri kreatif merupakan salah satu sektor yang menjanjikan. Pemerintah pada saat ini sedang gencar dalam mengembangkan, memfasilitasi serta memberdayakan industri kreatif lokal karena dipercaya mampu memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Begitu pula halnya dengan masyarakat yang mulai menyadari bahwa tuntutan perkembangan zaman mengharuskan mereka untuk memutar otak agar selalu dapat hidup dinamis dan sejahtera.

Maka dari itu, pertumbuhan industri kreatif –di mana pemanfaatan kreatifitas dan bakat individu merupakan sumberdaya utamanya– saat ini dinilai pesat di Indonesia dengan nilai ekspor mencapai 114,9 triliun rupiah dan berkontribusi sebesar 7,52% terhadap total nilai ekspor nasional. Di tengah maraknya kemuculan industri kreatif, terlepas dari penggolongan kelompok industri itu sendiri, diperlukan suatu hal agar usaha yang dijalani tetap berputar dan menghasilkan. Kreatifitas, orisinalitas, dan idealisme merupakan tiga aspek yang mampu menjawab tantangan untuk mempertahankan keberlangsungan dan eksistensi sebuah industri kreatif.

Pertama, sebuah industri kreatif membutuhkan pemikiran yang divergen dan cerdas dalam membaca kondisi masyarakat. Sesuai dengan prinsip dari industri kreatif itu sendiri bahwa pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta pemberdayaan daya kreasi dan daya cipta individu merupakan modal utama untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang menyejahterakan. Beragamnya kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan serta keterbatasan setiap individu dalam mencapainya merupakan peluang bagi pelaku kreatif untuk mulai membaca dan menganalisa gejala sosial yang terjadi di sekitarnya untuk kemudian diolah dan dituangi kreativitas serta daya cipta agar menjadi output yang bermanfaat bahkan disukai oleh masyarakat.

Sebagai contoh, penulis memiliki seorang teman yang memproduksi serta menjual T-shirt dengan ilustrasi duo asal Norwegia, Kings of Convenience yang ia desain sendiri, bertepatan dengan sebuah pagelaran musik yang menghadirkan duo tersebut. Euforia masyarakat, terutama anak muda, yang sangat antusias dalam mengapresiasi pagelaran tersebut, dimanfaatkannya sebagai peluang bisnis. Tiket yang sold out dengan cepat, sedikitnya dapat terobati dengan memiliki T-shirt tersebut. Terbukti dengan tagline, “ga dapet tiketnya, beli kaosnya!” ia memperoleh keuntungan yang dibagi hasil. Hal ini telah menerapkan konsep pemberdayaan kreatifitas yang menyejahterakan walau dalam skala kecil. Dengan selalu cermat memperhatikan perkembangan masyarakat dan membaca celah bisnis di dalamnya, akan senantiasa terjadi pembaharuan dan inovasi dalam outputnya, karena kehidupan masyarakat selalu dinamis, sehingga industri pun akan senantiasa berkembang seiring dengan pergerakan kehidupan masyarakat.

Kedua, orisinalitas dalam kegiatan produksi untuk menunjukkan identitas sebuah industri kreatif juga memegang pengaruh penting dalam perkembangan industri tersebut. Tema dan konsep-konsep yang diterapkan dalam serangkaian produk atau jasa yang dihasilkan lambat laun akan membentuk citra atau persepsi masyarakat tentang ciri khas yang dikedepankan oleh industri tersebut. Sebuah industri yang terkonsep dan memberikan “jiwa” di setiap output yang dihasilkannya, akan memberikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Terlebih lagi apabila industri tersebut mampu menstimulasi rasa ingintahu masyarakat yang kemudian terdorong untuk mengikuti perkembangan produk yang dikeluarkannya, sehingga terciptalah pasar baru.

Ketiga, idealisme dan prinsip dasar yang jelas akan menguatkan sebuah industri kreatif untuk terus berkembang. Menghasilkan uang memang merupakan tujuan utama dari kegiatan industri dan wirausaha. Setiap industri dan wiraswasta akan memiliki keinginan untuk dapat meraih untung sebesar-besarnya. Namun, pengorbanan kualitas output demi mengejar kuantitas akan menyebabkan penurunan daya tarik dan daya saing. Industri yang tidak terlalu peduli terhadap isi yang dikandung dalam outputnya, hanya akan “melintasi” pasar tanpa akan terus bergeliat di dalamnya. Contohnya dalam industri perfilman Indonesia saat ini.

Statistik menunjukkan bahwa tahun 2007 film nasional memproduksi 50 judul dan meningkat menjadi 80 judul pada tahun berikutnya. Namun, ragam judul atau topik dari film nasional itu sendiri tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Salah satu judul film horror nasional yang cukup fenomenal dan menjadi trendsetter adalah Jelangkung, yang kesuksesannya menjadi inspirasi bagi sineas lokal lainnya untuk memproduksi film dengan genre sejenis. Namun, setelah itu, film-film berikutnya seolah menjadi latah untuk mencoba peruntungan dengan terus memproduksi film dengan genre yang sama dan nyaris tidak melakukan inovasi sehingga tidak ada perkembangan dari isi dan makna yang dikandungnya. Padahal, seyogyanya sebuah film merupakan tontonan yang, selain memiliki sifat rekreatif atau menghibur, juga mengandung nilai moral serta pesan yang telah dikemas secara kreatif, di mana nilai moral dan tujuan tersebut merupakan output dari idealisme sang kreator.

Buktinya, film seperti Laskar Pelangi, yang dibuat dengan memiliki tujuan serta misi jelas serta memaksimalkan segala unsur yang dikandungnya, mampu bertahan dalam bioskop nasional jauh lebih lama dan mampu menggaet penonton jauh lebih banyak dibanding dengan film-film yang dibuat tanpa prinsip dasar selain unsur keuntungan finansial. Begitu pula halnya dengan sektor lainnya, tujuan utama mengapa industri tersebut berdiri dan mengapa saya (sang pelaku kreatif) membuat output produk atau jasa yang demikian, sebaiknya dilandasi dengan idealisme yang disertai pemikiran kreatif sehingga industri tersebut akan konsisten dalam berkarya namun senantiasa dinamis dan berkembang menuju arah yang lebih baik. Apabila industri-industri kreatif yang ada senantiasa memberikan makna dan totalitas terhadap output yang diciptanya, maka iklim bisnis berbasis  peningkatan kualitas dan daya saing dapat terwujud.

Sebagian orang berpendapat bahwa industri yang tidak berada pada jalur mainstream atau selera orang kebanyakan, tidak akan dapat bersaing dan berkembang dengan baik. Bila hendak mecari untung, tanggalkanlah idealisme, bekerjalah untuk pasar. Memenuhi ke-orisinil-an dan keidealisan membutuhkan modal besar yang memiliki resiko besar pula. Bangunlah industri “play safe” yang sekiranya segala resiko serta perhitungan finansial telah dapat diperkirakan. Namun, menurut hemat penulis, dengan kemampuan berwirausaha yang baik, di mana sang pelaku kreatif berarti mampu untuk mengkoordinasikan ide serta gagasan yang dikehendaki  dengan kreatifitas dan daya cipta untuk kemudian dituangkan terhadap output yang ingin dicapai lalu membawanya kepada masyarakat, ia akan mampu membentuk  komoditasnya sendiri karena sesungguhnya pasar itu dapat diciptakan.

Produk atau jasa yang lahir berlandaskan kecintaan dan passion sang pelaku kreatif dalam pemberdayaan kreatifitas secara total, akan meraih perhatian masyarakat yang efeknya lebih intens dan long-lasting. Seorang insan kreatif akan senantiasa menemukan inovasi dalam segala aspek kewirausahaannya sehingga modal minim pun apabila diolah dengan baik akan mampu menghantarkannya menuju kesuksesan. Contohnya, perusahaan sepatu Amble Footwear, sebuah produk murni anak negeri yang tumbuh karena kecintaan sang pendiri terhadap sepatu kulit dan suede, namun ia mendapati bahwa harga pasar sepatu model tersebut mahal, maka ia mulai berpikir untuk mendesain dan membuatnya secara independen, lalu dipasarkan mula-mula terhadap ruang lingkup kecil; keluarga dan teman-teman, lalu meluas hingga ke pasar mancanegara. Kreatifitas, idealisme dan fokus merupakan kuncinya untuk sukses.

Untuk meningkatkan kreatifitas, mulailah untuk sering mengamati hal-hal kecil dalam kehidupan kita yang sesungguhnya sarat inspirasi untuk kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai lebih. Kembangkan pikiran dan berani mencoba untuk memposisikan diri pada berbagai sudut pandang tanpa harus khawatir banyak tenatng persepsi orang lain. Mengamati, memahami dan menganalisa kehidupan masyarakat dan fenomena yang terjadi di dalamnya juga dapat menjadi stimulus untuk berpikir kreatif; mencoba untuk berbuat dan mencipta sesuatu yang berdaya jual.

Orisinalitas dapat diperoleh dengan mengeksplor potensi yang ada di sekitar, salah satunya adalah dengan menggali keunggulan dan keunikan budaya bangsa sehingga dapat terbentuk industri yang berbasis kearifan budaya lokal. Idealisme dapat tumbuh seiring dengan pengambilan “intisari” dari pengalaman-pengalaman yang didapat dalam berbagai aspek kehidupan, yang diperoleh dari pribadi “open-minded” dan dinamis.

Kreatifitas, orisinalitas dan idealisme merupakan tiga hal esensial yang juga merupakan faktor penentu penting dalam industri kreatif, bahkan lebih penting dari ketersediaan modal finansial karena koordinasi dari ketiga hal itu sendiri dapat mengolah dan memberdayakan sumber daya yang ada untuk menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis lebih.

Sumber  Referensi

•    http://airputihku.wordpress.com
•    http://www.indonesiakreatif.net ( Press Rilis Kickfest 2010 Bandung)
•    http://www.teknopreneur.com
•    http://dgi-indonesia.com
•    http://www.semuasaudara.com

Penulis: asmonowikan

An Optimistic and romantic man...!

One thought on “Sukses hanya butuh otak

  1. info yang menarik…

    izin nyimak ya…

    di tunggu kunjungan baliknya…

    by auto loan refinancing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s