Festival Ekonomi Kreatif

Situs blog resmi Festival Ekonomi Kreatif Tk SMA dan Sederajat se-Indonesia (FEKSI)

Ekonomi Kreatif: Jarum dalam Tumpukan Jerami, Sumber Daya Tak Terbatas Pendongkrak Pertumbuhan Ekonomi

2 Komentar

Oleh: Amanda Wijayanti (SMAN 1 Jogjakarta)

Amanda Wijayanti.

Pepatah, “Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami” biasa diartikan sebagai sesuatu yang mustahil dilakukan. Tetapi bisakah Anda bayangkan apa yang terjadi ketika tangan Anda mengaduk-aduk jerami dan malah menemukan jarum? Tertusuk jarum tantu berbeda rasanyan dengan tertusuk jerami, walaupun dua benda itu bentuknya sama-sama tipis. “Jarum” yang muncul diantara “Jerami” itu ternyata memberi efek yang mengejutkan bagi anda, hal ini mirip dengan fenomena lahirnya Ekonomi Kreatif.

Apa itu Ekonomi Kreatif?
Zaman terus berputar, begitu pula dengan perekonomian. Pada zaman dahulu orang-orang melakukan usaha pemenuhan kebutuhannya melalui Sektor Pertanian, ketika abad bergeser sedikit lahirlah Ekonomi Industri, tidak lama kemudian mulai populer Ekonomi Informasi.

Pada era yang makin maju dan makin menantang, kompetisi menjadi semakin keras. Negara-negara sibuk dengan usaha menghasilkan terobosan-terobosan terkini untuk menggondol predikat “Negara Maju”. Keadaan di mana persaingan yang makin banyak menuntut dihadapkan dengan terbatasnya sumber daya (baik alam maupun non-alam) membuat orang jadi berpikir untuk mencari alternatif yang lebih efisien dan mneguntungkan.

Dari sanalah lahir Ekonomi Kreatif, “Jarum yang Muncul diantara Jerami”.
Dikutip dari stitus resmi Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, pengertian Ekonomi Kreatif adalah: Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan perkerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Ekonomi Kreatif Mengkreatifkan Ekonomi
Ekonomi Kreatif yang bersumber dari individual creativity, skill, and talent ternyata terbukti mampu memberikan dampak yang positif. Di Amerika terdapat 30% pekerja yang tergolong strata kreatif yang mampu menghasilkan profit sebanyak dua triliun dollar Amerika.
Indonesia yang merupakan negara berkembang juga tak mau ketinggalan dalam trend Ekonomi Kreatif ini. Sedikit demi sedikit Ekonomi Kreatif mulai bermunculan dan mengkreativkan iklim perekonomian Indonesia. Dari atas meja tulis, dari goresan cat, dari modifikasi sampah, dari lensa kamera, bahkan dari bawah ketiak para seniman jalanan. Mulai dari hal yang tadinya kecil dan minor sekarang telah berkembang pesat dan populer.

Pada tahun 2007 Kementrian Perdagangan telah melakukan studi pemetaan industri kreatif dan mangklasifikasikan industri berbasis kreativitas menjadi 14 subsektor.  Ekonomi Kreatif kesannya memang tidak se-eksklusif bidang-bidang Ekonomi biasa yang terlihat kaku dan serius. Paradigma masyarakat terhadap ekonomi selama ini terkesan berat, mereka menganggap hanya orang yang knowledgeable dan terdidik secara formal saja yang dapat bercimpung dalam bidang Ekonomi. Ekonomi Kreatif yang cenderung sederhana tapi unik justru lebih mudah diterima oleh warga masyarakat.

Efek dari Ekonomi Kreatif sendiri bukan main, hal ini terbukti pada 2004 pertumbuhan Ekonomi Kreatif dapat mencapai 8,17% (persentase yang lebih tinggi dari pertumbuhan Ekonomi Nasional yang hanya 5,03%). Pada kurun waktu antara 2002-2006 Ekonomi Kreatif telah berkontribusi sebanyak kurang lebih 104,6 triliun rupian. Serta terbukti mampu menyerap 5,4 juta tenaga kerja. Selain itu 10,6% ekspor Indonesia merupakan produk dari Ekonomi Kreatif. Dan hingga sekarang telah tercatat ada sekitar 2,19 juta perusahaan yang berlabelkan Ekonomi Kreatif.

Sumber Daya Tak Terbatas
Indonesia sebagai negara yang berkembang hingga kini tidak pernah berhenti melakukan economic growth dan change untuk mencapai target economic development. Dalam usaha-usahanya Indonesia mangalami jatuh bangun karena berbagai masalah yang datang dan pergi. Walaupun masih belum menjadi negara yang maju, Indonesia memiliki peluang untuk menuju ke sana. Telah tercatat bahwa Indonesia, (bersama China dan India) mampu bertahan di tengah krisis global dengan pertumbuhan ekonomi yang positif (7%).

Hal itu menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebetulnya amat potenstial. Ekonomi Kreatif dapat menjadi alternatif yang sangat baik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain karena bukti-bukti yang telah diungkapkan pada paragraf sebelumnya, Sumber Daya dalam Eknomi Kreatif adalah Sumber Daya yang Tidak Terbatas dan malah akan terus berkembang. Jiiwa dari Ekonomi Kreatif adalah kreativitas itu sendiri. Pada dasarnya tiap manusia memiliki daya kreativitasnya masing-masing. Karena itulah hal ini amat berpotensi untuk membangkitkan entrepreneur-entrepreneur negeri kita. Yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah sektor Indusri baru yang besar dan unik. Seperti mata rantai hal itu akan ikut mengambil andil dalam mengentaskan pengangguran, pemerataan pendapatan, serta pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Basic Ekonomi Kreatif memang agak berbeda dari sektor ekonomi yang sudah-sudah. Jika sebelum ini sebuah perusahaan penghasil mebel perlu mengeksplorasi Sumber Daya Alam besar-besaran untuk meningkatkan hasil produksi, maka Ekonomi Kreatif cukup dengan menyulap output menjadi lebih menarik dan eye-catching dapat membuat harganya naik berkali-kali lipat. Jika sebelum ini perusahaan IT harus mengeluarkan cost lebih untuk mengkuliahan karyawannya, Ekonomi Kreatif justru akan menggali bakat-bakat terpendam dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Dan bagi Indonesia sendiri Ekonomi Kreatif justru menjadi pilihan yang baik, mengingat Indonesia memiliki ribuan budaya yang berbeda-beda. Dan sebagian besar warganya berlabel seniman. Bahkan seluruh dunia mengakui hal itu. Batik misalnya orang-orang Eropa berbondong-bondong ke Indonesia dan rela membayar tetek-bengek biaya visa dan lain lain hanya untuk membeli sepasang baju di Batik Plenthong.

Bukan hanya yang bercitarasa tradisional saja yang laku, bahkan yang modern-modern Indonesia pun tidak kalah dari mancanegara. Sejak kebangkitan perfilman Indonesia dipelopori olah film ‘Ada Apa Dengan Cinta’, sudah puluhan film produksi Indoneisa yang mampu tampil di festival-festival film bergengsi di luar negeri. Selaras dengan industri perfilman, industri musik Indonesia rupanya juga ikut meroket.
Alternatif-alternatif tersebut ternyata telah terbukti ikut berperan besar pada hasil Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sudah lebih dari 100 triliun yang dihasilkan oleh Ekonomi Kreatif di Indonesia.

Penulis: asmonowikan

An Optimistic and romantic man...!

2 thoughts on “Ekonomi Kreatif: Jarum dalam Tumpukan Jerami, Sumber Daya Tak Terbatas Pendongkrak Pertumbuhan Ekonomi

  1. Mantap abizzt tuch paparan adinda Amanda Wijayanti….

  2. INFONYA BNYAK,
    full value.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s