Festival Ekonomi Kreatif

Situs blog resmi Festival Ekonomi Kreatif Tk SMA dan Sederajat se-Indonesia (FEKSI)

Ekonomi Kreatif dalam Bakat Fotografi dan Sinematografi

2 Komentar

Oleh:Iffah Atqa, SMA Plus Negeri 17 Palembang

Iffah Atqa.

Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda, kuantitas penduduk yang besar ini tentunya akan memberikan dampak positif dan dampak negatif dalam segala bidang. Salah satu bidang yang sangat vital dan nyata mempengaruhi kelangsungan hidup masyarakat adalah bidang ekonomi. Seiring dengan perkembangan zaman, problematika perekonomian yang semakin kompleks dan rumit tidak hanya dihadapi oleh penduduk usia produktif, namun juga penduduk di bawah usia produktif, seperti siswa usia sekolah.

Dalam menghadapi berbagai problematika perekonomian tersebut, salah satu solusi yang saat ini mulai dikembangkan adalah bidang ekonomi kreatif. Konsep Ekonomi Kreatif sendiri merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan  ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa pusat orbit dari perkembangan ekonomi kreatif adalah ide, kreatifitas, dan potensi dari individu-individu itu sendiri. Hal ini akan membuka peluang bagi semua masyarakat Indonesia untuk ikut berperan dalam sektor ekonomi kreatif tersebut, tanpa ada batasan umur dan batasan status sosial.

Individu-individu yang memiliki potensi besar sebagai subjek pengembang ekonomi kreatif adalah siswa-siswa sekolah. Sekolah sebagai tempat pengembanagn diri generasi muda, saat ini telah memiliki berbagai program, yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang mulai berkembang di sekolah-sekolah adalah kegiatan ekstrakurikuler fotografi dan sinematografi.

Ekstrakurikuler fotografi dan sinematografi adalah ekstrakurikuler yang memiliki keterkaitan erat dengan teknologi digital dalam bentuk kamera dan handycam. Kegiatan mengambil gambar dan merekamnya merupakan kegiatan pokok yang memiliki peran penting dalam mengabadikan momen-momen  penting suatu peristiwa. Walaupun minat dan bakat siswa yang begitu potensial untuk digali telah muncul, namun sayangnya ekstrakurikuler ini belum dapat terintegrasi ke seluruh sekolah akibat berbagai kendala yang dihadapi.

Kendala yang dihadapi tersebut mencakup berbagai sarana dan prasarana yang belum dapat disediakan oleh sekolah, seperti kamera professional, handycam, LCD Proyektor, Speaker, Compact Disk kosong, buku-buku fotografi dan berbagai CD program untuk mengedit foto dan video. Kendala lain adalah sulitnya untuk mencari instruktur yang kompeten dengan honorium yang terjangkau. Keberadaan kendala-kendala inilah yang menyebabkan kurang berkembangnya ekstrakurikuler fotografi dan sinematografi, padahal ekstrakurkuler ini adalah wadah untuk menampung aset enterprenuership generasi muda dalam bidang fotografi.

Aset Enterprenuership dalam Fotografi dan Sinematografi
Sebenarnya, perkembangan teknologi fotografi dan sinematografi telah ada sejak sekitar 200 tahun yang lalu. Pada tahun 1822, Joseph Nicéphore Niépce membuat foto heliografi pertama dengan subyek Paus Pius VII, menggunakan proses heliografik. Sedangkan sinematografi dimulai pada tahun 1878, yaitu Eadweard Muybridge yang membuat sebuah foto high-speed photographic dari seekor kuda yang berlari. Perkembangan pesat selama 200 tahun terakhir ini, telah menghasilkan teknologi canggih dalam bidang fotografi dan sinematografi (www.wikipedia.org).

Saat ini kebutuhan akan pengabadian momen penting pada setiap kegiatan sudah menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Pengabadian momen ini, sering diidentikkan dengan foto-foto dan rekaman kegiatan. Berdasarkan observasi dan wawancara singkat penulis terhadap dua studio foto, anggota ekstrakurikuler FOCUS (Fotografi dan Sinematografi) di SMA Plus Negeri 17 Palembang, dan fotografer lepas, didapat sebuah fakta yang sangat mencengangkan. Fakta tersebut adalah tarif para fotografer yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara tiga ratu ribu rupiah hingga dua juta rupiah.

Semakin professional seorang fotografer, maka semakin tinggi pula tarif yang mereka patok untuk sekali sesi pemotretan. Diantara sederetan nama fotografer handal dengan tarif tinggi yang memulai kariernya dari bawah, dan telah dikenal oleh masyarakat luas melalui berbagai seminar fotografinya, adalah Deniek G. Sukarya Darwis Triadi dan Rahdian Seto (www.fotografer.net).

Kisah sukses dan tarif tinggi bagi penyedia jasa fotografi inilah yang mengispirasi beberapa anggota ekstrakurikuler FOCUS untuk menjadi salah satu fotografer lepas. Dengan modal kamera senilai lima hingga delapan juta rupiah, mereka dapat menerima pesanan untuk acara-acara siswa di sekolah, maupun di luar sekolah, dan jasa tersebut memiliki tarif dua ratus ribu hingga tiga ratus ribu rupiah. Memang tarif ini dibilang sangat kecil jika dibandingkan dengan harga kamera yang mereka gunakan, namun perlu ditekankan bahwa hampir setiap minggu jasa mereka dipakai. Fakta yang terungkap bahwa dalam satu bulan, minimal terjadi satu sesi pemotretan yang mereka lakukan.

Oleh karena itu, disinilah terungkap sebuah wujud nyata jiwa enterprenuership yang ada pada diri siswa. Untuk itu, diperlukan sinergi antara sekolah, masyarakat, dan pemertintah dalam pengembangannya ke depan.

Sinergi Pengembangan Enterprenuership Fotografi
Sebenarnya di dalam diri masing-masing individu, jiwa enterprenuership telah ada secara alami, namun seperti sebuah doktrinasi, bahwa seseorang dapat sejahtera hanya dengan bekerja untuk orang lain dan mendapatkan gaji. Mental menjadi bawahan inilah yang harus dibersihkan dari generasi muda saat ini. Dengan kondisi angka pengangguran yang cukup tinggi saat ini, diperlukan otak-otak kreatif yang memiliki keterampilan, jiwa enterprenuership, dan semangat pantang menyerah. Sinergi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah sangat diperlukan bagi pengembangan jiwa enterprenuership generasi muda, khusunya bidang fotografi.

Di sekolah, dapat dilakukan dengan cara membentuk ekstrakurikuler fotografi dan sinematografi,  memanggil fotografer profesional yang dapat memberikan materi mengenai fotografi dan sinematografi,  menyediakan fasilitas yang menunjang kegiatan ekstrakurikuler, memberdayakan anggota ekstrakurikuler untuk mengabadikan momen penting di sekolah,  dan melakukan evaluasi secara berkelanjutan serta mempromosikan para fotografer muda dari ekstrakurikuler ini kepada pihak luar. Karena pengadaan fasilitas cukup mahal maka sekolah dapat menyisihkan sebagian dana Bantuan Operasional Sekolah minimal untuk pengadaan kamera, handycam, dan LCD. Dan fasilitas yang lain, dapat dipenuhi dengan swadana antar siswa dan oragtua

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah menggunakan jasa fotografer muda dari ekstrakurikuler fotografi di sekolah, untuk mengabadikan momen-momen penting, membantu pengadaan fasilitas-fasilitas ekstrakurikuler bagi masyarakat yang memiliki kelebihan materi, dan komunitas fotografer di masyarakat dapat mengadakan workshop fotografi dan sinematografi bagi siswa-siswa sekolah.

Sedangkan pemerintah dapat membantu dengan cara membuat regulasi dalam yang mewajibkan setiap sekolah memiliki suatu wadah yang bergerak dalam enterprenuership dan selanjutnya wadah ini dapat menjadi usaha inti di sekolah, membantu dalam pengadaan fasilitas-fasilitas ekstrakurikuler yang dapat meunumbuhkan jiwa enterprenuership, dan mengadakan lomba kreatifitas enterprenuership dalam berbgai tingkatan, baik kota, provinsi, maupun nasional.

Dengan adanya sinergi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah dalam pengembangan jiwa enterprenuership, khusunya pada bidang fotografi dan sinematgorafi, diharapkan dapat membantu pengembangan kreatifitas, minat, dan bakat generasi muda Indonesia. Serta dapat membentuk mental generasi muda, bahwa semua orang berhak menjadi sejahtera dengan memiliki usaha sendiri. Dan percayalah, bahwa jiwa enterprenuership tersebut telah ada, kita pasti bisa mengembangkannya dan menjadi sukses luar biasa. ***

Penulis: asmonowikan

An Optimistic and romantic man...!

2 thoughts on “Ekonomi Kreatif dalam Bakat Fotografi dan Sinematografi

  1. fokus dan BAGUS.🙂

  2. nice article, please welcome to our place http://howtolearnphotography.wordpress.com/ thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s