Festival Ekonomi Kreatif

Situs blog resmi Festival Ekonomi Kreatif Tk SMA dan Sederajat se-Indonesia (FEKSI)

Penyebaran Virus-K di Kalangan Pelajar

4 Komentar

Oleh: Maharani, siswi SMAN 5 Semarang

Maharani

Saat ini dunia menjalani era industri gelombang keempat, industri yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai penggerak pertumbuhan perekonomian bangsa. John Howkins menambahkan bahwa era industri kreatif ini merupakan lanjutan dari era informasi. Penegasan ini tertulis dalam bukunya yang berjudul The Creative Economy (2001). Produk yang kreatif dan inovatif tersebutlah yang akan survive di era perdagangan bebas.

Apabila industri kreatif dapat diimplementasikan di Indonesia secara menyeluruh, bukan tidak mungkin  akan mendongkrak pertumbuhan perekonomian Indonesia di tengah menipisnya sumber daya alam Indonesia akibat eksploitasi secara besar-besaran yang dilakukan perusahaan besar tanpa diiringi pembaharuan sumber daya alam. Dengan menipisnya SDA Indonesia akan mendorong pemerintah untuk mengimpor bahan baku, dan hal itu akan mengakibatkan melemahnya pasar domestik. Dalam hal ini produsen dituntut untuk memikirkan bagaimana caranya memanfaatkan barang seadanya hingga mampu menghasilkan suatu barang yang memiliki nilai estetika dan nilai manfaatnya yang tinggi. Dengan demikian akan menghasilkan nilai jual yang tinggi  dan dapat menguatkan pasar domestik.

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa penghambat berkembangnya industri kreatif ialah berkembangnya teknologi dan informasi secara cepat. Namun penulis beranggapan hal itu bukanlah suatu yang menjadi penghambat, melainkan suatu peluang yang harus di manfaatkan seefisien mungkin. Berkembangnya teknologi dan informasi dapat di jadikan peluang dalam proses distribusi suatu produk.

Teknologi informasi memberikan paradigma baru mengenai pola interaksi, market place, dan jaringan informasi dengan efisiensi tinggi. Kemampuan teknologi informasi dalam melampaui batas-batas dimensi konvensional yang mencakup dimensi ruang dan waktu terefleksikan dalam pesatnya perkembangan internet (Muhadi, 2000). Menurut The Internet Economy Indicator (2000), nilai ekonomi internet tercatat sangat besar (lebih dari 850 milliar dollar).

Menurut Intel Capital Director-South East Asia-Intel Asia Pasific, Deepak Natarajan, saat ini pasar yang cukup potensial untuk industri kreatif adalah konsep media online. Perkembangan pesat industri kreatif yang terjadi di seluruh dunia saat ini menuju ke arah media online.

Berawal dari hobi, kemudian berkembang menjadi sebuah industri kecil-kecilan yang dapat diterapkan oleh kalangan pelajar. Mengapa dalam hal ini penulis menekankan pada pelajar? Tentunya karena pelajar merupakan cerminan pemimpin bangsa yang akan datang. Selain itu jiwa kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini agar kedepannya tidak ada penambahan angka pengangguran akibat tekanan arus persaingan industri yang tentunya semakin kuat. Dengan dilatihnya kewirausahaan sejak dini maka akan membentuk suatu pribadi pengusaha yang bermental tangguh.

Sebagai contoh penulis memiliki seorang teman sekolah yang dapat dikatakan pengusaha. Mengapa begitu? Karena dirinya sudah menerapkan kedua konsep yang telah disebutkan oleh penulis sebelumnya, dia memproduksi kalung dan sepatu lukis dengan modal awal yang ia pinjam dari  orang tuanya, kemudian ia menekuni bidang tersebut hingga saat ini ia dapat mengembalikan pinjamannya kepada orang tuanya, dan usahanya semakin berkembang.

Hal itu berawal ketika dirinya tak sengaja memperhatikan orang-orang sekitarnya yang memakai kalung terkesan standar, hingga pada suatu saat ia menemukan bahan baku pembuat kalung yang belum banyak dimanfaatkan oleh produsen kalung. Bahan baku tersebut dikenal dengan sebutan hamabeads. Kemudian ia mencoba mengolah hingga membentuk suatu kalung yang terbilang unik, dan ia menjualnya dengan harga Rp. 15.000-Rp. 25.000,00 tergantung dengan besar kecilnya kalung serta pemilihan warnanya, dan untuk sepatu lukis ia mematok harga Rp. 80.000 – Rp. 90.000,00 sesuai tingkat kerumitan desain lukisannya. Ternyata hasil produksinya dapat diterima lingkungan sekitar, hingga pada akhirnya ia memasarkan melalui jejaring sosial  dan omset penjualannya meningkat.

Berdasarkan sepenggal kisah usahanya tersebut, dapat menginspirasi kita ada beberapa hal yang penting dalam berbisnis industri kreatif bidang fesyen ini, diantaranya:

1.    Perlunya pengamatan terhadap lingkungan sekitar sebagai sarat inspirasi kita akan desain produk yang akan diproduksi kemudian dikembangkan, serta pentingnya menganalisis karakteristik produk yang diinginkan konsumen agar target marketnya sesuai sasaran.
2.    Perlunya kejelian dalam pengambilan keputusan dan menganalisis sistem pemasaran yang sering di sebut 4P (Product, Price, Promotion, dan Place).
3.    Diperlukan ketelitian yang sangat tinggi, dikarenakan bisnis tersebut menggunakan bahan baku yang tergolong kecil, dan proses produksi sangat membutuhkan ketelitian, diantaranya saat merangkai hamabeads menjadi sebuah kalung yang lucu dan unik, serta saat melukis disebuah sepatu yang kecil tentunya harus memiliki sifat yang sabar dan teliti.

Selain 3 poin penting yang telah dijabarkan penulis, tentunya produsen harus menjaga orisinalitas dalam desain produknya sehingga konsumen tetap tertarik pada hasil produksinya tersebut, karena desain yang berbeda dari pasaran itulah yang akan mengangkat citra produk dan nilai jualnya.

Namun dibalik itu semua kita sebagai pemuda yang kritis dan inovatif harus kembali kepada prinsip usaha kita tersebut. Pada zaman seperti ini banyak orang yang mengidealkan bahwa “segalanya untuk uang” namun jangan pernah terlintas dipikiran kita untuk mengahalalkan segala cara agar mendapatkan uang. Contohnya, produsen membuat produk dengan kuantitas sebanyak-banyaknya tanpa melihat kembali kualitas yang terkandung dalam produk  tersebut. Karena hal itu menyebabakan pelaku industri tersebut hanya sebagai angin lalu dengan gebrakan “harga murah, sale besar”.

Industri ini tergolong industri yang sangat berpotensi apabila diterapkan di kalangan pelajar, namun tentunya banyak keluh kesah yang dihadapi oleh mereka. Secara singkat, berdasarkan hasil wawancara ke beberapa pelajar pelaku industri kreatif bidang fesyen, mereka mengaku bahwa kendala yang sering kali ia rasakan yaitu kurangnya ketersediaan bahan baku yang bermutu di daerah kota Semarang, serta keterbatasan skill yang mereka miliki.

Melihat kenyataan itu, penulis bermaksud menyalurkan pemikirannya untuk membantu menyelesaikan problematika yang dihadapi para pelaku usaha tersebut dengan adanya “SINERGI TRIPLE HELIX”

Untuk mengatasi permasalahan di atas, seharusnya pemerintah memberikan regulasi yang mempermudah segala kegiatan produksi. Kurangnya ketersediaan bahan baku merupakan hal yang sangat ironis mengingat Semarang yang sempat mendapatkan predikat “Semarang Pesona Asia” merupakan salah satu daerah yang besar namun untuk permasalahan pariwisata dan industri kurang begitu menonjol. Oleh karena itu pemerintah perlu membentuk suatu tempat seperti pasar seni Ancol. Hal ini bertujuan agar lebih membuka ruang bagi para pelaku industri kreatif bertukar pengalaman dan pusat hasta karya seperti yang digelar di balai kota Semarang beberapa waktu yang lalu, karena semakin banyak event yang digelar maka semakin luas pula pasaran produk tersebut.

Selain itu, perlunya perbaikan kurikulum di jajaran sekolah meningkat keatas maupun kejuruan. Kurikulum yang berbasis kreativitas guna menggali potensi siswa yang dimiliki dalam bidang kerajinan. Seperti halnya pemberlakuan pelajaran membatik, hal itu sangat diperlukan mengingat batik merupakan ikon dari Jawa Tengah maka harus dilestarikan agar generasi selanjutnya dapat membatik secara benar walaupun membatik/melukis.

Workshop dan seminar dengan tokoh pembicara yang karismatik sangat penting diselenggarakan sebagai rangsangan agar para pelajar lebih tertarik untuk mencoba industri kreatif. Terlebih lagi apabila pada akhir acara terdapat momen pemberian award bagi pelajar yang telah sangat berperan penting dalam pengembangan industri kreatif bagi para pelajar di Kota Semarang sebagai apresiasi pemerintah terhadap pelaku usaha tersebut.

Selain itu hendaknya para kaum cendikiawan lebih banyak membantu meningkatkan industri fesyen kreatif ini dengan cara memperbanyak buku terjemahan sebagai literatur pengembangan fesyen, membangun pusat studi, informasi, dan teknologi bidang fesyen. Serta membantu pemerintah dengan cara menyusun sistem pendidikan bidang fesyen yang kebih diarahkan sebagai pendidikan eksplorasi diri. ***

Penulis: asmonowikan

An Optimistic and romantic man...!

4 thoughts on “Penyebaran Virus-K di Kalangan Pelajar

  1. BRAVO SMANSA UNGARAN

  2. bu dinar engga nyambung commentnya…. -_-”
    jangan frustrasi bu kalau saya tidak menang artikelnya….
    hehehehehe

  3. artikelnya komplit ya mbak,
    mulai dari permlsahan,smpulan,smpek solusi,
    good lah pokoke,

  4. eh rizky makasih lho sanjungannya . hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s