Festival Ekonomi Kreatif

Situs blog resmi Festival Ekonomi Kreatif Tk SMA dan Sederajat se-Indonesia (FEKSI)


Tinggalkan komentar

Pengumuman Finalis Nasional Lomba Artikel FEKSI Diundur

Feksi 2013, Muda – Kreatif – Mandiri!

Salam Feksi selalu…

Antusias peserta menulis artikel Feksi 2013 sungguh di luar dugaan. Naskah yang diterima oleh panitia Feksi 2013 sampai detik-detik penutupan deadline artikel pada 5 November lalu mencapai 274 naskah dari berbagai sekolah se-Indonesia, sehingga proses penjurian berjalan lebih lama. Sekhudin, Kordinator Feksi 2013 mengatakan “Naskah artikel yang diterima oleh panitia melalui email tahun ini secara kualitas dan kuantitas mengalami kenaikan yang sangat signifikan, sehingga proses seleksi berjalan lebih ketat dari tahun sebelumnya”.

Tiga juri dari tiga unsur berbeda diundang secara khusus untuk menyeleksi artikel terbaik dari para peserta se-Indonesia. Ketiga juri tersebut akan menilai dari segi substansi oleh juri akademisi, analisis oleh juri praktisi ekonomi kreatif, dan pesan yang disampaikan/komunikasi oleh juri media. Ketiga juri yang didaulat antara lain Anna Amalia dari unsur akademisi, Asmono Wikan dari unsur media, dan Sam August Himawan dari unsur praktisi ekonomi kreatif.

Hingga  saat berita ini diterbitkan proses penjurian masih berlangsung. Oleh karena itu pengumuman finalis nasional lomba artikel Feksi 2013 yang dijadwalkan akan diterbitkan hari ini (7/11), dengan sangat terpaksa harus diundur sampai proses penjurian selesai. Panitia berharap proses penjurian dapat selesai hingga esok (8/11) dan langsung dapat diumumkan pada hari itu juga.

Untuk kalian peserta lomba menulis artikel Feksi 2013 silakan bersabar dan berdoa untuk menunggu hasil penjurian esok. Semoga keberuntungan menghampirimu! 🙂

Feksi 2013 diinisiasi oleh Young Readers Indonesia – Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan RI. Follow us on twitter @YoungReadersID dan facebook.com/YoungReadersID. *(rik)

Iklan


11 Komentar

Grand final FEKSI jadi 22 Desember 2010…!

Kabar baik bagi seluruh finalis lomba debat dan menulis artikel dari 10 kota yang bakal mengikuti grand final FEKSI 2010 di Jakarta. Hari ini, Jumat (10/12), panitia FEKSI nasional mendapatkan konfirmasi jika grand final bakal dihelat Rabu, 22 Desember 2010. Kepastian ini diperoleh usai berlangsung rapat koordinasi antara tim dari Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat dan tim dari Direktorat Dagang Kecil dan Menengah dan Produk Dalam Negeri (DKMPDN), Kementerian Perdagangan, sore ini di Jakarta.

“Sampai hari ini kami pastikan grand final tetap berlangsung Rabu, 22 Desember 2010. Mudah-mudahan Ibu Menteri Perdagangan berkenan meluangkan waktunya untuk hadir di tengah-tengah seluruh peserta grand final,” ucap Sekhudin, Wakil Koordinator FEKSI nasional mengutip keputusan rapat koordinasi SPS – Kementerian Perdagangan yang dipimpin Direktur DKMPDN Suhanto. Dalam rapat tersebut juga terungkap, rencana grand final bersama Menteri Perdagangan akan berlangsung malam hari.

Dengan demikian, pada 22 Desember 2010 siang, seluruh finalis dari 10 kota diharapkan sudah tiba di Jakarta. “Kami akan mengatur seluruh teknis keberangkatan finalis FEKSI ke Jakarta. Mulai dari pemesanan tiket pesawat, penginapan, acara selama di Jakarta, dan pelaksanaan grand final itu sendiri,” imbuh Sekhudin.

Ia menekankan, agar seluruh finalis menyimak dengan benar dan teliti seluruh informasi rencana perjalanan ke dan dari Jakarta. “Jangan sampai ada finalis yang bertindak sendirian, tanpa melalui koordinasi dengan panitia FEKSI nasional (SPS Pusat). Seluruh informasi teknis dan detil gand final akan segera kami rilis di blog,” tegas Sekhudin.

Kabar baik ini, jelas membuat seluruh panitia FEKSI nasional sedikit lega, lantaran bisa segera mempersiapkan hal-hal teknis terkait pelaksanaan grand final ini. ***


6 Komentar

Ekonomi Kreatif Perkuat Cinta Produk Dalam Negeri Serta Menguatkan Jati Diri Bangsa

Oleh: Anggi Martha Paradila Rusadi, SMKN 3 Denpasar

Anggi Martha PR.

Sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia saat ini semakin tergerus arus globalisasi. Globalisasi yang terus menyerang kaum manusia di berbagai belahan dunia. Salah satunya di negeri yang sangat kita cintai Republik Indonesia, generasi  muda kita kini semakin terlena oleh buaian manis teknologi modern yang juga akibat arus globalisasi. Bukan hanya teknologi modern, tetapi fenomena yang kini terjadi dimana generasi muda kita lebih menyukai produk buatan luar negeri.

Produk buatan luar negeri yang lebih maju dalam mutu dan kualitas adalah salah satu penyebab mengapa produk dalam negeri tak banyak disukai dibandingkan dengan produk luar negeri. Siapa yang patut disalahkan produk buatan dalam negeri atau bangsa kita yang dominan memamerkan produk buatan luar negeri? Apa yang terjadi bila sebagian besar masyarakat kita menyukai produk buatan luar negeri?

Akankah perekonomian bangsa kita untung? Kapan kita mulai bertindak menyeimbangkan bahwa mutu dan kualitas produk dalam negeri setara dengan produk buatan luar negeri? Bagaimana cara kita menyerang anggapan bahwa produk dalam negeri “harganya mahal tapi tak berkualitas”? Akankah dengan mengembangkan ekonomi kreatif dapat mengubah anggapan bahwa kulitas produk luar negeri lebih bermutu dibandingkan dengan produk dalam negeri?

Baca lebih lanjut


4 Komentar

Penyebaran Virus-K di Kalangan Pelajar

Oleh: Maharani, siswi SMAN 5 Semarang

Maharani

Saat ini dunia menjalani era industri gelombang keempat, industri yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai penggerak pertumbuhan perekonomian bangsa. John Howkins menambahkan bahwa era industri kreatif ini merupakan lanjutan dari era informasi. Penegasan ini tertulis dalam bukunya yang berjudul The Creative Economy (2001). Produk yang kreatif dan inovatif tersebutlah yang akan survive di era perdagangan bebas.

Apabila industri kreatif dapat diimplementasikan di Indonesia secara menyeluruh, bukan tidak mungkin  akan mendongkrak pertumbuhan perekonomian Indonesia di tengah menipisnya sumber daya alam Indonesia akibat eksploitasi secara besar-besaran yang dilakukan perusahaan besar tanpa diiringi pembaharuan sumber daya alam. Dengan menipisnya SDA Indonesia akan mendorong pemerintah untuk mengimpor bahan baku, dan hal itu akan mengakibatkan melemahnya pasar domestik. Dalam hal ini produsen dituntut untuk memikirkan bagaimana caranya memanfaatkan barang seadanya hingga mampu menghasilkan suatu barang yang memiliki nilai estetika dan nilai manfaatnya yang tinggi. Dengan demikian akan menghasilkan nilai jual yang tinggi  dan dapat menguatkan pasar domestik.

Baca lebih lanjut


2 Komentar

Ekonomi Kreatif: Jarum dalam Tumpukan Jerami, Sumber Daya Tak Terbatas Pendongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Amanda Wijayanti (SMAN 1 Jogjakarta)

Amanda Wijayanti.

Pepatah, “Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami” biasa diartikan sebagai sesuatu yang mustahil dilakukan. Tetapi bisakah Anda bayangkan apa yang terjadi ketika tangan Anda mengaduk-aduk jerami dan malah menemukan jarum? Tertusuk jarum tantu berbeda rasanyan dengan tertusuk jerami, walaupun dua benda itu bentuknya sama-sama tipis. “Jarum” yang muncul diantara “Jerami” itu ternyata memberi efek yang mengejutkan bagi anda, hal ini mirip dengan fenomena lahirnya Ekonomi Kreatif.

Apa itu Ekonomi Kreatif?
Zaman terus berputar, begitu pula dengan perekonomian. Pada zaman dahulu orang-orang melakukan usaha pemenuhan kebutuhannya melalui Sektor Pertanian, ketika abad bergeser sedikit lahirlah Ekonomi Industri, tidak lama kemudian mulai populer Ekonomi Informasi.

Pada era yang makin maju dan makin menantang, kompetisi menjadi semakin keras. Negara-negara sibuk dengan usaha menghasilkan terobosan-terobosan terkini untuk menggondol predikat “Negara Maju”. Keadaan di mana persaingan yang makin banyak menuntut dihadapkan dengan terbatasnya sumber daya (baik alam maupun non-alam) membuat orang jadi berpikir untuk mencari alternatif yang lebih efisien dan mneguntungkan.

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Grafis desainer, industri kreatif yang berpeluang besar

Oleh: Muhammad Reysa (SMAN 2 Makassar)

Muhammad Reysa

Indonesia negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia ini terus mengalami perkembangan. Pemulihan, perbaikan dan pengembangan di segala sektor terus digalakan. Hal ini tentu membawa dampak yang signifikan bagi kelangsungan perekonomian Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa permasalahan ekonomi merupakan topik hangat pembicaraan para aktor perekonomian saat ini. Pemerintah pun telah berupayah mencari beberapa solusi guna mengatasi permasalahan-permasalahan perekonomian Indonesia.

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemerintah yaitu program Ekonomi Kreatif. Konsep Ekonomi Kreatif sendiri merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan  ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Hal ini berarti ekonomi kreatif lebih menekankan kepada kreativitas, ide dan inovasi dari Sumber Daya Manusia (SDM) itu sendiri. Dengan adanya ekonomi kreatif kita akan menjadi semakin kreatif dalam menyajikan produk-produk dalam negeri dan ini juga dapat membuka pasar persaingan produk-produk baru yang lebih inovatif, sehingga kita dapat meningkatkan daya saing produk nasional dalam menghadapi pasar Internasional.

Baca lebih lanjut


1 Komentar

Sukses hanya butuh otak

Oleh: Nur Khansa Ranawati (SMAN 2 Bandung)

Nur Khansa Ranawati.

Dalam era persaingan global, industri kreatif merupakan salah satu sektor yang menjanjikan. Pemerintah pada saat ini sedang gencar dalam mengembangkan, memfasilitasi serta memberdayakan industri kreatif lokal karena dipercaya mampu memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Begitu pula halnya dengan masyarakat yang mulai menyadari bahwa tuntutan perkembangan zaman mengharuskan mereka untuk memutar otak agar selalu dapat hidup dinamis dan sejahtera.

Maka dari itu, pertumbuhan industri kreatif –di mana pemanfaatan kreatifitas dan bakat individu merupakan sumberdaya utamanya– saat ini dinilai pesat di Indonesia dengan nilai ekspor mencapai 114,9 triliun rupiah dan berkontribusi sebesar 7,52% terhadap total nilai ekspor nasional. Di tengah maraknya kemuculan industri kreatif, terlepas dari penggolongan kelompok industri itu sendiri, diperlukan suatu hal agar usaha yang dijalani tetap berputar dan menghasilkan. Kreatifitas, orisinalitas, dan idealisme merupakan tiga aspek yang mampu menjawab tantangan untuk mempertahankan keberlangsungan dan eksistensi sebuah industri kreatif.

Baca lebih lanjut